Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Sejarah Open Source

in Software on March 19, 2015


Gerakan FOSS dimulai dalam budaya “hacker” yang terjadi pada beberapa laboratorium ilmu komputer (Stanford, Berkeley, Carnegie Melion, dan MIT) di tahun 1960-an dan 1970-an. Komunitas pemrogram jumlahnya masih sedikit dan saling terkait secara dekat. Kode program disebarluaskan di antara anggota komunitas. Jika Anda membuat perbaikan, Anda diharapkan untuk mengirim kode Anda ke komunitas pengembang Sistem operasi yang dikembangkan dengan cara Open Source atau Free Software telah ada sejak dekade 1970-1980, sebelum dua organisasi Free Software Foundation dan Open Source Initiative didirikan. Sistem operasi Unix pertama dikembangkan dari 1979 hingga 1974, 2menggunakan cara berbagi kode sumber program, alias cara free software atau open source.
Namun di akhir 1970-an dan awal 1980-an Unix berkembang menjadi sistem operasi
proprietary, yang diikuti sistem operasi lain seperti MS DOS, MS Windows, Novell Netware, dan Apple Macintosh.
Gerakan FOSS boleh dikatakan dimulai sejak awal mula industri komputer, meskipun tidak dinyatakan secara formal atau dengan konsep yang jelas. Hanya saja pada akhir 1970-an dan awal 1980-an terjadi konflik antara konsep saling berbagi perangkat lunak dengan konsep perangkat lunak berpemilik (proprietary). Acuan awal konflik ini dibuat oleh William H. Gates III (Bill Gates), dalam pernyataannya yang terkenal “An Open Letter to Hobbyists” (Surat Terbuka kepada para Penghobi). Dalam surat tertanggal 3 Februari 1976 itu ia mencemooh budaya berbagi perangkat lunak yang telah umum berlaku sebelum itu,
“…Perangkat keras harus dibeli, tetapi perangkat lunak menjadi sesuatu untuk dibagi. Siapa yang mau peduli jika orang yang bekerja untuk itu mengambil bayaran? …”
Pengembang perangkat lunak proprietary ingin mengambil kesempatan pada tahun-tahun berikutnya. Di laboratorium kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) MIT pada awal 1980- an, sebuah perusahaan bernama Symbolics didirikan, lalu mengambil kode-kode yang tersedia secara bebas (bahasa pemrograman LISP) dan menjadikannya proprietary (tidak tersedia bebas alias berpemilik). Dalam prosesnya, ini berarti menghapus budaya berbagi perangkat lunak di laboratorium MIT saat itu. Namun, perusakan ini akhirnya akan menghasilkan kreasi FSF dan budaya FOSS saat ini.
Richard Stallman, salah satu anggota laboratorium MIT saat itu, terkejut atas lanjutan
persitiwa tersebut. Ini kemudian membentuk pandangannya terhadapat perangkat lunak
proprietary, dan membangkitakan keinginannya untuk membuat sistem operasi yang free (bebas). Projek GNU (GNU is Not UNIX) berdiri pada Januari 1984. Dalam dekade
berikutnya projek GNU menghasilkan berbagai program atau tool penting merupakan bagian dari sistem operasi. Yayasan perangkat lunak bebas (FSF) didirikan setahun kemudian untuk mempromosikan perangkat lunak dan projek GNU. Namun, hingga 1991 projek GNU belum menghasilkan sistem operasi lengkap karena masih ada kekurangan pada bagian kritis, yaitu kernel.
Kernel merupakan inti atau jantung dari sistem operasi. Linus Torvalds yang saat itu
mahasiswa tahun kedua Universitas Helsinki membuat dan mendistribusikan kernel seperti
UNIX. Sejalan dengan tujuan pengembangan FOSS, kernel yang kemudian diberi nama
Linux itu tersebar secara luas, dikembangkan, dan diaplikasikan menjadi inti dari sistem
operasi GNU/Linux.
Ada beberapa projek FOSS yang sedang berjalan dalam waktu bersamaan, antara lain server
DNS BIND, bahasa pemrograman Perl, dan sistem operasi BSD. Sebagian besar projek itu
kemudian bergabung atau saling menguatkan.
Sistem operasi GNU/Linux terus tumbuh secara cepat dengan makin lengkap fitur dan
kemampuannya. Pada 1997, Linux meledak menjadi berita media, sesuai dengan perkiraan
IDC (International Data Corporartion) bahwa Linux telah menguasai 25% sistem operasi
server dan memiliki pertumbuhan 25% per tahun.
Pada 1998, sebagai tanggapan terhadap Netscape yang merilis kode sumber program
Netscape Navigator sebagai FOSS, sekelompok pengembang FOSS bergerak bersama dan
label “Open Source” digulirkan. Gerakan ini lalu membentuk OSI (Open Source Initiative)
dan OSD (Open Source Definition). Tujuan utama gerakan ini untuk mengajak dunia bisnis
memberi penekanan kepada proses pengembangan FOSS, dan mengalihkan perhatian dari
gerakan perangkat lunak bebas (Free Software) yang kontroversial saat itu.
Pada 1999, perusahaan distributor GNU/Linux Red Hat berhasil go public atau IPO (Initial
Public Offering) dengan meraup dana dari pasar saham senilai US$ 4,8 milyar atau Rp 48
trilyun jika 1US$ = Rp 10.000,-. Sebagai anak baru dari FOSS, kesuksesan GNU/Linux
menunjukkan bahwa era FOSS telah benar-benar tiba.
Gambar 1.4 Grafik Pengguna Facebook 2012 (http://www.trenologi.com)
Era 2010-an ini terjadi ledakan besar penggunaan inti sistem operasi atau kernel Linux di
perangkat bergerak (mobile devices) seperti smartphone dan komputer tablet, sejak Google
memimpin pengembangan Android secara open source (2008). Pada 2013, jumlah perangkat
komputer dengan sistem operasi Linux-Android diprediksi telah melewati angka satu milyar.
Menurut Linux Foundation pada awal Oktober 2013, setiap hari ada 1,3 juta perangkat
Android baru.
Sejarah singkat itu memberikan bukti bahwa produk FOSS dapat dijadikan bisnis, bukan
software gratis (Freeware/Shareware), meskipun tidak ada biaya izin atau royalti, karena
orang dapat mendapatkan uang dari mengembangkan software, memodifikasi software atau
menjual suatu software dipadukan dengan software lain, menyediakan jasa dukungan teknis,
menyediakan jasa pelatihan, menjual software dalam bentuk kemasan CD dan
dokumentasinya, menjual software disatukan dengan perangkat keras, dan sebagainya.
1.3 Filosofi Free Software dan Open Source Software
Dua istilah free software dan open source software sering disatukan dalam bentuk singkatan
Pengantar Open Source dan Aplikasi – STT Terpadu Nurul Fikri – www.nurulfikri.ac.id
4FOSS (Free/Open Source Software), karena dua organisasi yang mencetuskan dua istilah itu
memiliki misi sama dalam mengembangkan dan menyebarluaskan program, namun secara
filosofi sedikit berbeda.
Ada dua filosofi pokok pada kata FOSS, yaitu filosofi dari FSF (Free Software Foundation)
atau Yayasan perangkat Lunak Bebas, dan filosofi dari OSI (Open Source Initiative) atau
Inisiatif Sumber Terbuka. Kita mulai pembahasan dengan filosofi FSF, sesuai dengan urutan
sejarah dan karena posisi FSF sebagai pionir dalam gerakan FOSS ini. Tokoh utama gerakan
FSF adalah Richard M. Stallman, sedangkan tokoh gerakan OSI adalah Eric S. Raymond dan
Bruce Perens.

Categories: Software