Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Asal Mula dan Istilah Sebutan Unicorn serta penjelasan Decacorn

in Internet on March 7, 2019

Penjelasan tentang Apa itu Unicorn

Kapankah suatu startup disebut unicorn? Mengutip dari Kompas.com, istilah unicorn disematkan kepada perusahaan rintisan (startup) yang memiliki nilai valuasi lebih dari 1 miliar dollar AS atau setara dengan sekitar RP 14,1 triliun.

Istilah unicorn pertama kali muncul sekitar tahun 2013 yaitu ditulis oleh seorang yang bernama aileen lee,seorang investor ventura dari Cowboy Ventures.

Lee menganggap istilah itu mampu menggambarkan obsesi magis para startup yang berburu valuasi hingga miliaran dollar AS. Ditambah kala itu, masih sedikit perusahaan rintisan yang memiliki valuasi 1 miliar dollar AS.

Lee menggunakan istilah itu dalam sebuah artikel yang diterbitkan Tech Crunch dengan judul “Welcome to the Unicorn Club: Learning From Billion-Dollar Startups”. Sejak saat itu, istilah tersebut menjadi kosakata baru di bidang investor publik dan swasta, pengusaha, dan siapa pun mereka yang bekerja di industri teknologi.

Penjelasan Tentang Decacorn dan Hectacorn

Akan ada juga istilah decacorn. Istilah ini digunakan untuk menyebut perusahaan rintisan yang memiliki valuasi di atas 10 miliar dollar AS. Setelah decacorn, nantinya akan ada juga istilah hectocornuntuk menyebut startup dengan valuasi di atas 150 miliar dollar AS.

Dalam skala regional, menurut data Google-Temasek tahun 2018, Asia Tenggara kini memiliki 9 startupunicorn, 4 di antaranya berasal dari Indonesia. Mereka adalah Go-Jek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak.

Sejauh ini, Asia Tenggara baru memiliki satu startup decacorn, yakni Grab. Isu terakhir yang berkembang, pesaing Grab yakni Go-Jek disebut akan segera menyusul menjadi startup decacorn. Laporan Tech Crunch menyebut valuasi Go-Jek setelah putaran pendanaan terakhir ditaksir mencapai 9,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 134 triliun

sumber: https://klasika.kompas.id